banner 728x90

Ini dia hukum sedekah bumi atau sedekah laut

banner 468x60

PenaIslami, beberapa waktu lalu kita digemparkan dengan adanya tindakan anarki oleh oknum yang melakukan perusakan fasilitas dan properti yang sejatinya disiapkan untuk acara sedekah laut di pantai selatan Yogyakarta. Bersama itu juga marak dibeberapa lokasi yang menolak secara terang-terangan pelaksanaan sedekah laut ini. Bahkan ada yang menyatakan protes dengan doa yang cenderung “menyumpahi” semisal “Jangan Larung Sesaji karena Bisa Tsunami”. Di beberapa kesempatan oknum tersebut menggunakan dalil agama dimana perbuatan syirik akan berimbas bencana untuk semuanya. Jadi mereka beranggapan wajib untuk menegur bahkan sampai membubarkan demi tujuan yang mereka yakini untuk melindungi aqidah dan keselamatan bersama.

Foto : SindoNews

Untuk itu, pada kesempatan ini kita akan coba ambil beberapa referensi terkait dengan hukum sedekah bumi atau sedekah laut dalam Islam. Untuk menjawab ini, mari kita tengok apa yang disampaikan oleh redaksi Bahtsul Masail NU melalui nu online. Dalam uraian tersebut dijelaskan bahwa Bahtsul Masail NU mencoba menjawab pertanyaan oleh seseorang yang menanyakan pandangan Islam terhadap sedekah bumi atau sedekah laut yang sudah lama menjadi pro dan kontra yang sampai pada puncaknya terjadi perusakan terhadap properti upacara sedekah laut di Yogyakarta.

Dalam uraianya, Tim Bahtsul Masail membagi masalah ini kedalam dua persoalan yaitu persoalan aqidah (keimanan) dan fiqhiyah.

Menyoal Sedekah bumi dan Laut pada tataran Aqidah (Keimanan)

Menyoal permasalahan ini dalam bidang aqidah, disampaikan bahwa tidak serta merta dapat dihukumi menjadi hitam/syirik/kufur atau putih/tauhid/imam. Masalah ini perlu dilakukan perincian berdasarkan atas situasi yang terjadi di lapangan.

Pada bagian ini, kegiatan sedekah bumi dan laut dapat di hukumi haram dengan syarat mengandung kemusyrikan atau syirik sebagaimana hasil Mukhtamar NU ke-5 pada tahun 1930 M / 1349H di pekalongan yang dikutip dari Syarah Tafsir Jalalain karya Syech Sulaiman Al-Jamal dan Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali.

“Orang yang pertama meminta perlindungan kepada jin adalah kaum dari Bani Hanifah di Yaman, kemudian hal tersebut menyebar di Arab. Setelah Islam datang, maka berlindung kepada Allah menggantikan berlindung kepada jin,” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Jamal, Al-Futuhatul Ilahiyyah).

Kegiatan sedekah bumi dan laut ini dapat juga di hukumi mubah jika dengan acara semisal penyembelihan hewan tertentu ini dimaknai atau diniatkan sebagai cara taqarrub kepada Allah guna mengusir jin atau penguasa laut. Tetapi ketika hal ini diniatkan untuk melayani atau menyenangkan penguasa laut maka jatuh humum haram. Hal ini sebagai mana keterangan Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in.

“Siapa saja yang memotong (hewan) karena taqarrub kepada Allah dengan maksud menolak gangguan jin, maka dagingnya halal dimakan. Tetapi kalau jin-jin itu yang ditaqarrubkan, maka daging sembelihannya haram.”

Dijelaskan kembali oleh Syekh Sayid Bakri bin Sayid M Syatha Ad-Dimyathi dalam I‘anatut Thalibin berikut ini :

“(Siapa saja yang memotong [hewan]) seperti unta, sapi, atau kambing (karena taqarrub kepada Allah) yang diniatkan taqarrub dan ibadah kepada-Nya semata (dengan maksud menolak gangguan jin) sebagai dasar tindakan pemotongan hewan. Taqarrub dengan yakin bahwa Allah dapat melindungi pemotongnya dari gangguan jin, (maka daging) hewan sembelihan-(nya halal dimakan) hewan sembelihannya menjadi hewan qurban karena ditujukan kepada Allah, bukan selain-Nya

Menyoal Sedekah bumi dan Laut pada tataran Fiqhiyah

Dalam ranah fiqhiyah, prosesi sedekah bumi atau sedekah laut bisa saja diperbolehkan, akan tetapi akan jatuh dilarang jika mengandung unsur i’dha’atul mal (menyia-nyiakan harta) atau unsur tabzir. Sedikit catatan beberapa ulama yang menyatakan bahwa i‘dha‘atul mal atau tabzir dengan menyia-nyiakan sedikit harta dihukumi makruh sebagaimana masalah ukuran sedikit-banyak ini dapat ditarik (diilhaq-kan) dari masalah penaburan bunga di makam

“Jika itu hanya sedikit, maka mubah. Tetapi jika itu banyak, maka makruh tanzih (yang baiknya ditinggalkan),” (Lihat Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib alal Khatib, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, juz II, halaman 570).

 

Dari beberapa paparan diatas, Redaksi Bathsul Masail NU menyimpulkan bahwa hukum sedekah bumi atau sedekah laut dapat dilihat dari niat penyelenggaraan acara tersebut. Hal ini disebabkan bersinggungan dengan masalah keyakinan, aqidah, tauhid, keimanan dan seberapa sering upacara dilakukan. Terkait seringnya kegiatan ini dilakukan akan dapat mempengaruhi nikai idh’atul mal atau tindakan tabdzir yang kemudian bisa jatuh pada makruh dalam agama.

Jikalau barang yang dilarung berwujud lain seperti ayam, sayuran segar, buah-buahan yang pada akhirnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, maka hal ini dapat bernilai ibadah. Sehingga kita tidak bisa langsung menghukumi sebuah kegiatan, pada khususnya sedekah bumi atau sedekah laut ini tanpa kita melihat praktiknya dilapangan.

Demikian hukum sedekah bumi atau sedekah laut menurut Redaksi Bahtsul Masail melalui nu online.

Semoga Bermanfaat.

banner 468x60
Tags:
author

Author: 

One Response

  1. Provokasi di kota Budaya tentang Sedekah Bumi atau laut | Pena Islami5 months ago

    […] Baca Juga : hukum sedekah bumi. […]

    Reply

Leave a Reply