banner 728x90

Menggunakan Kalimat Tauhid sebagai simbol, Memuliakan atau justru Menista?

banner 468x60

PenaIslami, Beberapa waktu lalu kita digemparkan dengan adanya Anggota Badan Otonom Nahdlatul Ulama Banser yang melakukan pembakaran terhadap bendera yang patut diduga sebagai bendera HTI. Hal ini membuat sebagian kalangan geram tak terima karena bendera Tauhid di bakar. Bahkan sebagian kalangan bahkan berpendapat mengkafirkan orang pembakar bendera. Dari peristiwa ini sendiri menjadikan gempar sampai-sampai ada beberapa kalangan masyarakat yang berniat untuk “menggruduk” dan menyatakan protes.

Massa Aksi Bela Tauhid melakukan aksi unjuk rasa di sekitaran patung Kuda Arjuna Wijaya hingga depan kantor Kemenkopolhukam di Jakarta Pusat, Jumat (26/10/2018). Demo bertajuk Aksi Bela Tauhid ini merupakan respons atas pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dilakukan oleh anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU di Garut, pada Senin lalu. (Kompas.com)

Benar adanya hal ini, kemarin tepatnya pada hari Jum’at tanggal 26 Oktober 2018 telah dilangsungkan demo yang bertempat di sekitar kantor kemenkopolhukam. Demo ini bertajuk “Aksi Bela Tauhid” yang berlangsung di depan kantor Kemenko Polhukam di Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusata. Dilansir merdeka.com aksi ini berlangsung sampai pukul 15.40 WIB. Dari aksi ini, kemudian diterima oleh Sesmenko Polhukam.

Hal yang menarik di dalam aksi ini adalah bagaimana peserta aksi menggunakan atribut yang mereka yakini sebagai bendera Tauhid. Mulai dari bendera berwarna hitam dengan kalimat tauhid berwarna putih, warna putih dengan kalimat tauhid berwarna hitam bahkan peserta aksi juga ada yang membawa bendera Indonesia. Dalam aksi ini, peserta aksi memprotes pembakaran bendera yang meraka anggap bendera tauhid oleh Banser sebagai penistaan.

Cukup menarik memang, karena beberapa ulama banyak mempertentangkan penggunaan kalimat tauhid di beberapa benda, dimana ada yang pro dan ada yang kontra. Intinya sederhana apakah kita dapat memuliakan kalimat tauhid itu jika kalimat itu menempel pada sebuah benda, apalagi jika kalimat tauhid sebagai simbol. Yang perlu di perhatikan adalah, pada aksi bela tauhid yang lalu ternyata beberapa peserta aksi membawa atribut bahwa tidak terima atas di bakarnya bendera HTI sehingga tujuan aksi bela kalimat tauhid menjadi sedikit kabur. Hal ini dikuatkan oleh kesaksian pembawa bendera yang ternyata sudah mengaku bahwa bendera yang di bawanya pada saat acara HSN di Garut merupakan bendera HTI yang di beli secara online yang kemudian di bakar oleh Banser. Hal ini jadi pertanyaan, yang kemarin aksi ini di sampaikan dengan aksi bela Tauhid kenapa bisa berujung kepada aksi bela bendera HTI? tentunya jika kita sedikit saja berfikir tentunya kita bisa membedakan mana kalimat tauhid mana kalimat tauhid yang dijadikan sebagai sebuah simbol. Lebih-lebih yang memakai simbol ini ternyata merupakan ormas terlarang yang sudah di bubarkan karena mengarah kepada kegiatan merongrong negara kesatuan Republik Indonesia. Bahkan ada beberapa spanduk yang terang-terangan menganggap bendera itu adalah bendera tauhid dan mengecam pembakaran bendera HTI.

Spanduk mengecam pembakaran bendera HTI

Kembali ke pokok bahasan, apakah penggunaan kalimat tauhid pada media seperti bendera bisa memuliakan atau bahkan menistakan kalimat tauhid itu sendiri? Mungkin sebagian kita masih ada pro dan kontra karena Banser menyebutkan membakar bendera itu agar menjaga bendera agar tidak di nistakan dan dijadikan simbol HTI untuk berlindung pada setiap gerakan politik untuk membawa pesan khilafah dan mengganti dasar negara Indonesia.

 

Bingung? Tentu, disisi lain Banser membakar bendera HTI untuk memuliakan kalimat tauhid, dan sebagian kalangan menyampaikan bahwa pembakaran bendera merupakan penistaan terhadap kalimat tauhid dan bahkan sampai menyebut kafir.

Berikut ini saya mendapatkan beberapa gambar dari salah satu media sosial twitter terhadap perlakuan bendera yang sebagian kalangan menyebut bendera tauhid dan ada yang terang-teangan menyebut bendera HTI.

Gambar bendera tauhid yang menyentuh tanah saat seseorang ingin memasangnya di tiang

Gambar bendera yang bertuliskan kalimat tauhid yang di letakkan di selokan

Gambar bendera dengan “kalimat tauhid” yang di duduki oleh salah satu orang

Gambar penjual yang menjual topi bertuliskan kalimat tauhid yang diletakkan di bawah, bahkan sejajar dengan kali calon pembeli.

Gambar seorang peserta yang lebih sayang dengan HP nya dari pada Bendera bertuliskan kalimat tauhid yang sampai menyentuh tanah

Semua tindakan kita pasti ada konsekuensinya, yang jadi tugas ketika kita menggunakan kalimat tauhid ini sebagai simbol adalah seberapa kuat dan seberapa bisa kita melindungi kalimat tauhid itu dari perbuatan-perbuatan yang mungkin dilakukan oleh kita sendiri yang dapat menghinakannya.

Jadi, silakan disimpulkan apakah dengan menggunakan kalimat tauhid sebagai simbol merupakan tindakan memuliakan atau justru menistakan kalimat tauhid itu sendiri?

Semoga bermanfaat.

banner 468x60
Tags:
author

Author: